Anda pasti sering mendengar atau bahkan menggunakan kata “ikonik”. Sebuah lagu yang tak lekang oleh waktu, sebuah adegan film yang terus dibicarakan, atau sebuah bangunan megah yang menjadi simbol kota. Semuanya kita sebut “ikonik”. Kata ini seolah menjadi label untuk segala sesuatu yang hebat, terkenal, dan tak terlupakan.
Namun, pernahkah Anda berhenti sejenak dan bertanya, apa sebenarnya arti “ikonik”? Mengapa beberapa hal bisa mencapai status tersebut, sementara yang lain tidak? Ternyata, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar “terkenal”. Sesuatu yang ikonik memiliki kekuatan untuk menjadi simbol, mewakili sebuah gagasan, bahkan menangkap semangat suatu zaman.
Menariknya, ada sedikit kejutan linguistik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk kata yang baku sebenarnya adalah “ikonis”, bukan “ikonik”. Meskipun begitu, “ikonik” sudah sangat lazim digunakan dan dipahami secara luas. Mari kita telusuri bersama makna di balik kata yang begitu sering kita gunakan ini.
Ikonik vs. Ikonis: Mana yang Benar?
Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita selesaikan perdebatan kecil ini. Dalam percakapan sehari-hari, “ikonik” adalah pemenangnya. Namun, jika kita merujuk pada aturan bahasa yang resmi, ceritanya sedikit berbeda.
- Ikonis adalah bentuk baku dalam KBBI. Kata ini diartikan sebagai sesuatu “berkaitan dengan gambar atau lambang yang langsung menimbulkan pertalian dengan benda yang dilambangkannya”.
- Ikonik dalam KBBI VI Daring dicatat sebagai bentuk tidak baku yang merujuk pada “ikonis”.
Mengapa demikian? Dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah, akhiran -ic dari bahasa Inggris sering kali diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi -is. Contohnya, optimistic menjadi optimistis, dan allergic menjadi alergis. Dengan logika yang sama, iconic menjadi ikonis.
Namun, bahasa terus berkembang. Karena penggunaan “ikonik” sudah sangat meluas, kata ini dapat dipahami dengan mudah. Untuk selanjutnya dalam artikel ini, kita akan tetap menggunakan kata “ikonik” yang lebih familiar, namun kini Anda tahu fakta menarik di baliknya.
Lebih dari Sekadar Terkenal: Apa yang Membuat Sesuatu Jadi Ikonik?
Menjadi ikonik bukanlah kontes popularitas. Sebuah merek, karya, atau tokoh bisa menjadi ikonik karena mereka berhasil terhubung dengan budaya secara mendalam. Mereka tidak hanya menawarkan produk atau hiburan, tetapi juga sebuah ideologi atau mitos yang relevan bagi banyak orang.
Douglas B. Holt, seorang profesor dari Harvard Business School, memperkenalkan sebuah teori yang disebut Cultural Branding. Menurutnya, merek-merek ikonik tidak dibangun dengan strategi pemasaran konvensional yang hanya fokus pada manfaat produk. Sebaliknya, mereka berhasil karena beberapa alasan kunci:
Menjadi Simbol Budaya

Sesuatu yang ikonik melampaui fungsi dasarnya dan berubah menjadi simbol. Pikirkan tentang Nike. Mereka tidak hanya menjual sepatu; mereka menjual semangat “Just Do It”—sebuah ideologi tentang keberanian untuk memulai, mengatasi batasan, dan meraih kemenangan pribadi. Slogan ini menjadi begitu kuat karena ia berbicara tentang nilai-nilai universal yang relevan dalam berbagai aspek kehidupan, bukan hanya olahraga.
Menjawab Kegelisahan Zaman
Menurut Holt, merek ikonik sering kali muncul dengan menjawab ketegangan atau kegelisahan yang ada di masyarakat pada suatu waktu. Mereka menawarkan “mitos identitas” yang membantu orang menavigasi perubahan sosial. Kampanye “Just Do It” diluncurkan pada tahun 1988, sebuah era di mana banyak orang mendambakan pemberdayaan individu. Nike menangkap semangat itu dan memberinya suara.
Punya Cerita yang Menggugah Emosi
Di balik setiap hal ikonik, selalu ada cerita yang kuat. Cerita ini tidak harus selalu besar atau heroik. Justru, cerita yang paling berkesan adalah yang terasa personal dan relevan. Iklan-iklan Nike, misalnya, sering kali menampilkan kisah orang biasa yang berjuang mengatasi tantangan mereka, membuat pesannya terasa dekat dan menginspirasi.
Contoh lokal yang menarik adalah kampanye “Sepenuhnya Indonesia” dari McDonald’s Indonesia untuk merayakan 35 tahun kehadirannya. Alih-alih memamerkan produk, kampanye ini justru memberi penghormatan pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, seperti gotong royong dan kebersamaan. Dengan cara ini, merek tersebut membangun hubungan emosional yang lebih dalam dengan audiensnya, melampaui sekadar hubungan transaksional.
Contoh Nyata Sesuatu yang Ikonik di Sekitar Kita

Status ikonik bisa ditemukan dalam berbagai bentuk. Berikut adalah beberapa contoh nyata yang mungkin sudah Anda kenal:
- Landmark Ikonik: Monumen Nasional (Monas) di Jakarta bukan sekadar tugu, melainkan simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia. Candi Borobudur bukan hanya susunan batu kuno, tetapi representasi warisan budaya dan spiritual yang diakui dunia. Keduanya menjadi ikonik karena makna historis dan budaya yang mereka emban.
- Slogan Ikonik: Selain “Just Do It”, Indonesia punya slogan yang tak kalah melegenda: “Indomie Seleraku”. Kalimat sederhana ini berhasil merangkum hubungan emosional satu bangsa dengan sebuah merek mi instan, menjadikannya lebih dari sekadar tagline iklan.
- Kampanye Ikonik: Kampanye “Shot on iPhone” dari Apple adalah contoh brilian. Apple mengubah para penggunanya menjadi duta merek, memamerkan foto-foto indah hasil jepretan mereka di papan reklame seluruh dunia. Kampanye ini tidak menjual spesifikasi kamera, melainkan menjual status dan kreativitas.
- Fakta Menarik: Salah satu kampanye paling cerdik datang dari McDonald’s Indonesia dengan “The Untranslated Ad”. Mereka merilis sebuah lagu J-Pop yang enak didengar berjudul “Nihon No Fureeba” tanpa terjemahan. Lagu ini viral dan disukai banyak orang, sebelum akhirnya terungkap bahwa liriknya sebenarnya adalah deskripsi menu burger baru mereka. Kampanye ini memenangkan penghargaan karena berhasil memanfaatkan kecintaan masyarakat pada budaya pop Jepang dengan cara yang sangat kreatif.
Kesimpulan: Jadi, Apa Itu Ikonik?
Setelah menelusuri berbagai definisi dan contoh, kita bisa menyimpulkan bahwa “ikonik” adalah status yang dicapai ketika sesuatu berhasil melampaui keberadaan fisiknya dan menjadi sebuah simbol yang sarat makna.
Sesuatu yang ikonik tidak hanya dikenal, tetapi juga dicintai dan dihormati. Ia memiliki cerita, mewakili sebuah ide, dan terhubung secara emosional dengan audiensnya. Ia adalah cerminan budaya yang relevan dan abadi.
Dan lain kali Anda menggunakan kata ini, Anda tidak hanya tahu artinya, tetapi juga tahu bahwa bentuk kata yang lebih tepat menurut KBBI adalah “ikonis”. Sebuah pengetahuan kecil yang mungkin membuat Anda terdengar sedikit lebih keren di tongkrongan.















